Friday, February 9, 2007
Thursday, February 8, 2007
Mantu amat Rakus
Ipar, dalam bahasa Jawa disebut ipe. Tapi bagi lelaki dari Desa Geparang Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, kata ipe bisa dipelesetkan menjadi: iki ya penak (ini enak juga). Soalnya berdasarkan studi lapangan yang dia jalani, menggauli adik kandung istri sendiri, ternyata asyik juga. “Masalahnya, ada keberanian dan pertentangan batin atau tidak,” begitu dia berdalih.
Tali moral Paimo memang sudah putus sejak sebulan lalu. Hal ini dimulai ketika istrinya yang asal Desa Keponggok, sudah 6 bulan lamanya berangkat ke Timur Tengah sebagai TKW. Sebetulnya ini sesuatu hal yang sangat tak dikehendaki Paimo. Tapi pa daya, neraca ekonominya makin memburuk saja. Pekerjaannya yang hanya sebagai pekerja serabutan, selalu tekor untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Istrinya sebelum berangkat memang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Katanya, dua tahun tidaklah lama. Sekarang berdingin-dingin dulu, tapi ekonomi kan bisa didandani. Nanti setelah kembali dari Arab Saudi, kehidupan rumahtangganya kan jadi mesra sekali, laiknya pengantin baru saja. “Pokoke apa sing dadi duwekku, mengko peken kabeh ya wuk ya.... (apa yang jadi milikku ambilah semuanya nanti),” kata sang bini.
Apa yang dikatakan istri memang benar. Sebab sejak istrinya jadi TKW, 3 bulan berikutnya ekonominya mulai menggeliat. Artinya, dari kiriman real istrinya dia bisa membayar utang-utangnya termasuk makan ajeg dan nyandang wutuh (berpakaian utuh).
Dengan lingkungannya Paimo juga mulai bisa bergaul secara lumrah. Diajak arisan bisa ikut, ada uleman juga bisa kondangan dan nyumbang! Tetapi, meskipun ekonominya menggeliat, tiap malam Paimo kini juga menggeliat-geliat tak keruan. Sebab sejak istrinya tak berada di sampingnya, suhu udara di kawasan Purwodadi mendadak buruk sekali.
Dinginnya sangat terasa, tapi tak bisa diobati dengan selimut rangkap lima, atau bediyang (api unggun). Justru wajah istrinya kini kembali membayang selalu di matanya. “Hoo hoo, adik sayaaaang, kapan dinda pulang, tlah lama rindu di sisimu....,” kata Paimo menirukan lagunya Sandhora-Muchsin dulu.
Ingin sekali Paimo segera berkasih-kasihan dengan bininya. Tapi menunggu 1,5 tahun lamanya, wihhhh......kangennya keburu jadi kemenyan! Otak nakalnya mulai jalan. Kebetulan adik istrinya, si Srini, juga masih tinggal di rumah mertuanya. Pikir Paimo, ini lumayan juga untuk “obat anget”. Apalagi sosok dan penampilan sang ipar juga tak mengecewakan. Bodi seksi, jauh lebih muda, putih lagi.
Keesokan harinya Paimo segera mengajak adik iparnya di Keponggok dengan alasan untuk momong ponakannya. Sebab sejak ditinggal ibunya, anaknya paling kecil suka rewel dan tak ada yang momong. Padahal sebenarnya, hal itu sekadar kiat Paimo untuk mewujudkan impiannya. “Habis impian yang begini, mana mungkin untuk mewujudkannya minta bantuan Bank BNI,” kata Paimo.
Ayah Srini tentu saja mengizinkan. Tapi kejadian selanjutnya sungguh memprihatinkan. Malam harinya ketika ponakannya sudah tidur, gentian Paimo minta diemong dan menuntut “gendong depan” pada Srini. Dengan ancaman dan paksaan, aspirasi arus bawahnya terpenuhi juga. Ibarat iklan rokok: kopi dihirup, Srini disruput!
Hal itu tak berlangsung hanya sekali, tapi berkali-kali.
Srini yang tak menikmati “sruputan” kakak iparnya, segera mengadu kepada ayahnya. Tentu saja mertuanya marah sekali, apa lagi setelah divisum dokter kegadisan Srini memang sudah hilang. Hari itu juga Paimo dilaporkan ke Polres Purworejo dan dibekuk. “Habis saya kesepian tiap malam, Pak.....!” ujarnya mencari simpati.
Menebar 'Solar' 20 Kali
Aduh-aduh, nekadnya Juswadi, 44 tahun, sungguh nggak ketulungan. Dengan menjadi Brimob gadungan, lelaki dari Bandung ini berhasil mengencani bini orang di Cirebon sebanyak 20 kali. Padahal, pekerjaan Juswadi aslinya hanya pedagang solar eceran, lho. Tapi itulah nasib manusia, dengan penuh pede dia berani menebar “solar”-nya ke mana-mana! Apa ora hebat?
Tukang jual solar eceran di pinggir jalan, memang bukan profesi yang menggembirakan, apa lagi menjanjikan. Tapi Juswadi warga Puri Cipegaran Indah, Cimahi Kabupaten Bandung, tak bisa lain kecuali harus menekuni pekerjaan tersebut. Sebab tanpa bekerja sedapatnya, bagaimana nasib anak bininya di rumah? “Biar hina sekalipun pekerjaan itu, yang penting halal...,” begitu prinsip Juswadi pada akhirnya.
Inkam atau penghasilan Juswadi sebagai pedagang solar eceran memang lumayan. Buktinya dia mampu menabung, bahkan kemudian suka jalan-jalan ke Cirebon. Padahal mestinya, keuntungan itu daripada buat rekreasi ke luar kota segala, kan lebih baik ditabung. Lihat tuh atap rumahnya, lisplang sudah keropos dimakan rayap diantepin saja. “Apa nggak malu kalau dilihat orang?” begitu kata hati nurani Juswadi mengingatkan.
Kata hati nurani sih boleh-boleh saja, begitu. Tapi sesungguhnya, kepergian Juswadi ke Cirebon seringkali tersebut karena sedang menjalani sebuah misi. Bukan misi kemanusiaan atau kesosialan, melainkan misi......perselingkuhan! Husy, masa begitu sih? Iya, soalnya diam-diam Juswadi di Cirebon sedang punya gebedan baru. Dia adalah penyanyi kafe yang menjadi langganannya selama ini.
Aneh sebetulnya, sudah berulangkali main karaoke di kafe itu tapi Juswadi belum berhasil mendekati Yuswati, 35, wanita incarannya yang pintar menyanyi tersebut. Tapi pada kunjungan ke sekian kalinya, dengan mengenakan seragam Brimob, dia bisa kenalan dan tahu latar belakang sebenarnya wanita tersebut. “Tapi jangan salah ya Mas, aku sudah punya suami. Tuh yang nggebuk drum....,” kata Yuswati terus terang.
Haesssy, peduli amat, begitu kata batin Juswadi. Biar Yuswati sudah punya suami, asalkan dia memberi lampu hijau, baginya itu halalan tayiban saja. Dan itu pula tengara yang diperoleh Brimob gadungan tersebut. Dari sorot matanya, gerak-geriknya, Juswadi yakin bahwa penyanyi karaoke ini bisa “dijuss” wadi atau daerah rahasianya! Tinggal sekarang bagaimana melanjutkan sehingga tiba pada situasi: selanjutnya terserah Anda!
Rencana Juswadi berjalan mulus. Soalnya ketika Brimob gadungan itu mengajak jalan-jalan, Yuswati tidak menolak. Begitu juga ketika diajak masuk hotel, lagi-lagi istri penggebuk drum itu manut saja. Maka bisa ditebak apa yang terjadi di sana. Meski bukan dalam ikatan suami istri, mereka enak saja kelonan dan berhubungan intim. Dan di sinilah uniknya, mentang-mentang di kafe biasa jadi penyanyi karaoke, di hotel ini Yuswati mau juga diajak “karaoke” oleh si Brimob gadungan.
Indah ngkali ya, orang selingkuh itu. Buktinya sejak kejadian tersebut pedagang solar eceran ini rajin menebar “solar”-nya ke Cirebon. Dalam kurun waktu 6 bulan, sudah tidak kurang dari 20 kali Yuswati-Juswadi “juss-jussan” di hotel. Agar tidak dikenali atau ketemu kenalan, tempatnya berpindah dari hotel satu ke hotel lainnya. Kadang Yuswati yang boking duluan, kadang pula Juswadi yang masuk kamar dulu, sehingga Yuswati tinggal mengikuti program sistem jemput “bola”.
Ngeseks liar ala Yuswati-Juswadi tersebut lama-lama diketahui juga oleh Adam, 40, si tukang nggebuk drum. Pulang dari hotel penyanyi karakoke tersebut lau diinterogasi soal hubungannya dengan lelaki lain. Dari mulut Yuswati kemudian tersebut nama Juswadi, yang ngakunya berpangkat Kompol dan bertugas di Menpor Kelapadua, Depok. “Ya saya suka kencan dengannya, tapi nggak sering-sering amat,” kata Yuswadi seperti minta dimaklumi.
Dasar Adam lelaki penyabar, dia tidak meledak-ledak mendengar pengakuan spektakuler tersebut. Justru Juswadi diundang ke rumahnya di Kesambi untuk klarifikasi. Mungkin untuk menakut-nakuti suami Yuswati, pedagang solar tersebut datang dengan mengenakan seragam Brimob. Tapi justru di sini dia kena batunya. Sebab di rumah Adam juga sudah didampingi seorang anggota Brimob yang asli dan punya NRP segala.
Uh, ah, uh ah, hanya begitu kata-kata Juswadi yang terpojok. Akibat jawaban yang pating pecotot tersebut, warga yang menyaksikan “sidang” tersebut jadi emosi. Brimob gadungan itu digebuki, baru diserahkan ke Polres Cirebon. “Ya, kalau 20 kali saja ada, Pak...,” kata Juswadi ketka diperiksa petugas. Mukanya bengep, simpang siur tak keruan.